Rabu, 30 Desember 2009

Geliat Sastra Arab Zaman Jahili

A. Prolog

Adab (sastra), adalah kata yang mempunyai pemaknaan komplek dalam kehidupan masyarakat arab. Di mulai sejak zaman pra-modern sampai ke tingkat peradaban seperti sekarang ini. Para penerjemah bahasa banyak berselisih tentang arti adab hingga sampailah ke dalam definisi adab yang di sepakati oleh para ulama adab, yaitu : puncak suatu kalam yang memberikan kesan di dalam sanubari para pembaca dan pendengar, syair maupun karangan bebas .

Berbalik dari semua itu, kata adab telah di terjemahkan ke dalam bahasa prancis yang juda sering kita dengar dengan sebutan Litterature Kata ini sudah di masukkan ke dalam EYD Bahasa Indonesia atau lebih dikenal dengan kata literatur. Kata adab dalam bahasa arab memiliki arti yang lain jika penggunaannya di dalam idhofah tidak mengacu ke dalam keliteraturan. Bisa bermakna budi pekerti. Rasulullah pernah bersabda, “Addabani rabby fa ahsana ta’dibi”. Jika kata itu bersanding dengan kata ilmu yang menjadikan kedudukannya sebagai mudhaf ilaih, Ulumul Adab, maka para ulama salaf lebih cenderung mendifinisikannya kedalam kumpulan dari berbagai ilmu yang meliputi ilmu bahasa, sharaf, nahwu, ma’ani, badi’, bayan, ‘Arudh, Qafiyah, kaligrafi dan ilmu Insya’ .

Melihat dari definisi para ulama salaf di atas, sangat berbeda dengan definisi di paragraf pertama yang di ungkapkan oleh Dr. Syauqi Dhaif. Bisa dipahami bahwa paragraf kedua menunjukkan arti dari kata adab secara umum. Sedangkan dari definisi sebelumnya menunjuk kepada adab yang bermakna khusus. Pemahaman yang kedua inilah yang akan kita bahas dalam bab-bab setelahnya.

Pemaknaan arti kata adab secara khusus mengacu kepada arti kata adab yang sesungguhnya, yang telah dibagi menjadi dua: syair dan nasr (prosa/ karangan bebas)
Adapun syair, Abu Al Faraj Qudamah bin Ja’far memberikan kita gambaran dengan tepat ilmu-ilmu yang membahas tentang syair:
1. Ilmu ‘Arud dan wazannya
2. Ilmu Qofiyah dan taqti’nya.
3. Ilmu Ghorib dan bahasanya
4. Ilmu pemaknaan dan maksud dari syair.
5. Ilmu yang mengkategorikan baik dan buruknya syair .
Kelima ilmu ini menjadikan syair lebih unggul dari pada nasr. Kaedah-kaedah di dalam ilmu-ilmu tersebut menjadikan syair tidak bisa diungguli nasr yang hanya bersifat bebas tanpa ada ikatan kaedah. Ilmu ‘Arudh dan Qafiyah yang dikarang pertama kali oleh Kholil bin Ahmad menunjukkan keunikan yang dimiliki syair. Jumlah huruf yang sama di dalam setiap bait-baitnya, huruf akhir yang tersusun dengan satu huruf yang sama dalam setiap baitnya dan yang lain sebagainya. Sehingga kata ini juga populer dengan sebutan nudzum.



B. Munculnya sastra arab di kalangan Bangsa Arab.

Sejarawan tidak banyak berselisih tentang etnik arab yang di kelompokkan menjadi 3 fase. Dan kesepakatan yang di buat ini juga tidak banyak menimbulkan perselisihan diantara sejarawan yang lain.
Para sejarawan membagi orang-orang arab ke dalam 3 kelompok:
1. Kaum Baidah, atau sering dinamakan dengan ‘Araba. Kaum yang masih mempunyai hubungan erat dengan nabi Nuh dari silsilah nasab Aram bin Nuh. Kaum ini memiliki 9 kabilah. Kaum baidah suka berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain. Mereka pindah dari Yaman kemudian Makkah, Madinah dan terakhir adalah Syam. Kaum ini dapat bertahan hingga zaman nabi Ibrahim, Ismail dan nabi Yusuf. Sekitar 5 abad. Akan tetapi para sejarawan tidak banyak menulis tentang peradaban mereka melainkan sedikit yang diceritakan Allah melalui Al qur’an tentang kaum Ad dan Tsamud.
2. Kaum ‘Aribah, keturunan Qahtan yang hidup setelah kaum Baidah. Mereka yang hidup 8 abad sebelum Masehi. Kaum yang terkenal ada 2: Saba’ dan Hamir.
3. Kaum Musta’ribah, disebut juga dengan Ismailiyyin sebagai kakek dari keturunan mereka dan ‘Adnaniyyin sebagai salah satu cucu Ismail. Mereka hidup di daerah Timur Syam dan Iraq sampai sekarang .

Ketiga kelompok di atas tidak mengetahui sama sekali tentang keliteraturan arab. Mereka dimasukkan ke dalam kelompok kaum yang masih primitif untuk mengenal sastra. Di karenakan tingkat buta huruf yang masih tinggi. Adapun yang sudah mengenal tulisan adalah kaum sisa keturunan kaum Musta’ribah yang hidup di masa jahili yang di mulai dengan muncul seorang penyair terkenal bernama Umru Al Qoysi .

Tingkat buta huruf di zaman nabi Muhammad Saw pun masih menjadi momok kekurangan yang dimiliki oleh Bangsa Arab. Hal ini dapat di atasi nabi dengan cara membebaskan tawanan Perang Badar tanpa membayar upeti. Tetapi dengan mengajarkan 10 orang anak dari kaum muslimin, membaca dan menulis.

Sastra mulai tampak di permukaan masyarakat arab dengan ditandai kemunculan penyair-penyair arab. Hal ini lebih dikuatkan dengan berdirinya 3 pasar yang dijadikan untuk adu ketangkasan dalam menulis syair serta menyuarakaanya di depan masyarakat arab. Adalah pasar Ukadz yang sudah sangat masyhur di kalangan Bangsa Arab. Kemudian pasar Majnah dan pasar Dzu Majaz. Ketiga pasar ini terletak di antara Thoif dan Mekkah.

Dengan pasar-pasar ini para penyair mandapat penghargaan dan kedudukan yang tinggi dikalangan Bangsa Arab. Tidak jarang di antara mereka mandapatkan barang-barang yang berharga yang hanya bisa dimiliki oleh masyarakat atas. Kata-kata yang mereka keluarkan adalah kemuliaan bagi mereka. Jika ada seorang penyair datang ke suatu kabilah maka mereka akan menyiapkan makanan, kemudian para wanita cantik di antara mereka disuruh untuk memainkan alat musik. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap para penyair.

Jika kita menyadari bahwa kalaulah bait-bait syair itu muncul, pasti tidak di nafikan para penyair yang telah menuliskannya.. Di dalam buku Jawahirul Adab yang di karang Ahmad Al Hasyimi membagi urutan para penyair zaman jahili menjadi 3 bagian. Kelompok pertama di isi oleh Umru Al qoysi, Zuhair bin Abi Sulma dan Nabighah Al Dibyani. Kelompok ke dua di isi oleh Al A’sya, Lubaid bin Rabi’ah Al Amiri dan Tarfah bin ‘Abd. Kelompok ketiga di isi oleh ‘Antarah bin Syadad, Urwah bin Warad, Duraid bin Summah, dan Harits bin Hilazah Al Yasykuri .

Secara pasti para sejarawan tidak banyak mengetahui tentang kapan awal mula munculnya para penyair ini, sebab di dalam buku-buku yang menuliskan tentang kesusasteraan pada masa jahili tidak disebutkan secara rinci biografi mereka. Seorang Umru Al Qoysi yang telah disepakati kemasyhurannya sebagai orang yang pertama kali menyerukan bait-bait syairpun tidak mempunyai biografinya secara lengkap. Hanya saja disebutkan bahwasanya dia adalah keturunan para raja, bahkan di dalam buku Jawahirul adab dia tercantum sebagai raja. Kemasyhuran syair Umru Al Qoysi saat itu di karenakan banyak sekali faktor, diantaranya: syair-syairnya yang panjang, dia sebagai orang pertama yang mengucapkan ungkapan berbentuk syair dan syair-syairnya yang banyak tertempel di dinding ka’bah biasa di sebut dengan muallaqat. Tetapi tidak menutup kemungkinan syair-syairnya dapat tersebar luas karena kekuasaaannya dan kemasyhuran ayahnya.

Muallaqat-muallaqat ini bukan hanya milik Umru Al Qoysi, ada 6 penyair lainnya yang ikut andil di dalamnya, yaitu para penyair kelompok pertama dan kelompok kedua. Di tambah Amru bin Kultsum. Kumpulan muallaqat ini hanya ditulis di atas pelepah kurma, tulang dan kulit binatang. Proses pembukuannya pun belum sempat terlaksana. Baru setelah masa Rasulullah Saw syair-syair yang berserakan sengaja dikumpulkan untuk dijadikan rujukan setelah pengumpulan dan pembukuan hadits.

Di sisi lain, para penyair selain ahlul mu’allaqat juga menuliskan syair-syairnya di atas batu, pelana kuda dan kulit-kulit binatang. Ada yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Seperti syairnya ‘Alqomah bin ‘Abdah, seorang dari Bani Tamim yang disebut juga dengan sebutan ‘Alqomah Al Fahlu (kuda jantan) di karenakan dia pernah berseteru dengan Umru Al Qoysi yang di hakimi oleh Ummu Jundub, istri ‘Alqomah sendiri. Cerita tentang ‘Alqomah dan Umru Al Qoysi banyak dihafal oleh para penyair lainnya, para penyair jahili sendiri maupun para penyair setelah masa jahili. Dan setelah beberapa dekade, barulah syair yang hanya diceritakan tersebut ditulis.

Isi dalam syair-syair arab jahili meliputi banyak hal, di antaranya al madh (pujian), al hija’ (celaan), al gazl (syair cinta), al wasfi (pensifatan terhadap sesuatu). Adapun prosanya berisi khutbah, amtsal (permisalan), dan sajak-sajak yang digunakan oleh para peramal.

Selain syair, nasr juga punya andil yang besar dalam dunia kesusasteraan arab. Macam nasr tidak banyak, hanya meliputi khutbah. Proses penyebaran karangan bebas pun mulai tampak sejak didengungkannya khutbah-khutbah oleh para Khutoba’Arab, diantaranya: Hajib bin Zuroroh, Harits bin ‘Ibad,’Amru bin Syarid, Kholid bin Ja’far al Kilabi. Khutbah-khutbah yang di sampaikan biasanya hanya berisi tentang kumpulan kata-kata bijak dan nasihat yang disampaikan kepada umat. Selain khutbah, masal (permisalan) juga menaungi nasr. Atau biasa kita sebut dengan balaghah. Selain itu ada juga untaian kata bijak (hikmah) dan wasiat.



C. Pengaruh sastra terhadap Bangsa Arab.

Sastra mulai dikenalkan oleh Umru Al Qoysi beberapa tahun sebelum datangnya Muhammad Saw. Secara berkesinambungan masyarakat Arab mempunyai kesan senang terhadap syair-syair yang dibawa oleh Umru Al Qoysi. Akan tetapi Umru Al Qoysi di kenal masih suka mengerjakan perbuatan yang di lakukan masyarakat arab masa itu. Yang tentunya tidak jauh dari minuman keras, wanita dan berburu.

Seorang penyair sangat berpengaruh terhadap suatu kabilah. Kebiasaan yang sering dia kerjakan masih menjadi tolok ukur bertindak bagi masyarakat umumnya. Penyair juga menjadi tombak kekuatan. Kabilah yang tidak memiliki penyair akan diremehkan dengan kabilah yang lainnya. Pasalnya, syair menjadi hal yang sangat sakral di zaman jahili. Setiap kabilah terkesan harus memiliki seorang penyair. Jika ada seorang pemimpin kabilah yang di cela oleh pemimpin kabilah yang lain dengan syair, maka secara otomatis para pemimpin akan mencari orang yang pandai dalam bersyair.

Para pemimpin kabilah juga mempunyai sedikit kebiasaan mengundang para penyair untuk menghilangkan kesedihan dan pilu hati yang menimpa mereka. Dan sudah menjadi kebiasaan pula penyair pulang dengan membawa hadiah. Harta, kekayaan materi, dan wanita. Hal ini berdampak kurang baik terhadap beberapa kehidupan penyair yang kurang dalam materi. Para sejarawan menyebutnya dengan sebutan Su’ara’ al Sa’alik. Di dalam bukunya, Dr. Thahir Abdul Lathif mendefinisikannya sebagai kelompok penyair khusus yang mempunyai sikap berani, berpendirian teguh, dan kuat kejiawaanya. Akan tetapi mereka kurang dalam papan, sandang pangan dan harta.

Di lain hal, Bangsa Arab mempunyai kebiasaan yang kita anggap tidak pas jika kita kerjakan pada zaman sekarang. Berperang, menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat arab jahili. Mereka menjadikannya sebagai sunah di kalangan mereka. Darah berceceran dimana-mana tidak membuat mereka memejamkan mata. Malahan hal ini sudah jadi syariat bagi mereka. Peperangan yang terjadi siang hari ini berakhir malam hari. Pagi hari mereka melanjutkan kembali peperangan hingga ada yang menang dan ada juga sebaliknya, kalah. Secara pribadi, penulis belum menemukan peran para penyair zaman jahili dalam setiap peperangan yang mereka laksanakan. Berbeda di zaman daulah Abbasiyah yang peranan mereka sangat besar terhadap kestabilan Bangsa Arab.

Dalam realita yang terjadi pada masyarakat arab, kehidupan para penyair memang masih menjadi tolok ukur kehidupan di sekitar mereka. Kedudukan syair yang tinggi menjadikan mereka golongan orang kasta atas. Pujian dan kebaikan kabilah sering terlontar dari mulut para penyair. Rasa takut berubah menjadi berani karena bait-bait syair. Rasa benci menjadi senang ataupun sebaliknya.

Sebelum akhir kata, literatur arab hanyalah sebuah batasan di setiap tataran kehidupan masyarakat arab. Yang tidak lain tujuan akhir dari keliteraturan ini adalah supaya para sastrawan bisa menggunakan kemampuan sastranya dalam memahami Al Qur’an dan Hadits secara baik dan benar. Mampu memahami satu kata dengan yang lainnya hingga bisa menyimpulkan hukum yang berada dalam kalam arab dan majas-majasnya. Adapun untuk memahami syair dan nasr hanyalah sebagai tujuan sampingan. Tidak adanya hukum pada tujuan kedua ini menjadi alasan yang tepat .




C. Epilog

Penulis merasa masih banyak kekurangan dalam penulisan perdana ini. Kurangnya penguasaan metodologi menulis menjadi salah satu kendala. Akan tetapi, penulis berkeyakinan bahwa menulis harus di mulai dari sekarang. Karena rasa takut dengan kritikan yang masih belum jelas akan membawa kita lebih ke ke sempitnya berfikir. Akhirnya, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang dapat membangun. Hari ini adalah milik anda. Maaf jika kurang berkenan......



-- Andi Luqmanul Qosim
el-Madrasah, 11 Juli 2009 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar